Kamis, 08 Januari 2015

artikel (Scooterist bukan gang motor)



Scooterist bukan gang motor

Apa yang membedakan Club dengan Geng?

Pengistilahan Geng vespa adalah tidak tepat, karena istilah geng biasa digunakan untuk kumpulan OTB (Organisasi Tidak Berbentuk) yaitu sebuah kumpulan spontanitas yang terdiri dari orang yang memiliki hobby/kegemaran yang sama. Dalam hal ini, biasanya kumpulan tersebut memang tidak memiliki tujuan serta arahan yang terorganisir. Sehingga rentan terhadap tindakan-tindakan spontanitas yang tidak bertanggung jawab.

Seperti halnya dibandung, perang  terhadap geng motor tersebut terus digalakan sejak maraknya tindak kejahantan yang dilakukan para anggota geng tersebut.  Tentu saja tidak semua pengendara motor baik itu motor keluaran terbaru atau lama di beri tindakan atau diperangi. Karena hanya geng motor saja yang diperangi tersebut.

Untuk mengetahui geng motor, tidak semudah dengan menyebut bahwa pengendara motor  secara berkelompok adalah sebuah geng. Karena ada beberapa kriteria kumpulan/rombongan atau komunitas yang bisa di sebut geng. Berikut adalah kriterianya:

1. Kebanyakan anggota geng motor segan untuk menggunakan perangkat safety dalam berkendaraan, seperti helm, sepatu dan jaket.

2. Membawa senjata tajam yang dibuat sendiri atau sudah dari pabriknya seperti samurai, badik hingga bom molotov.

3. Biasanya hanya beraktifitas pada malam hari dan tidak menggunakan lampu penerang serta gemar menggunakan knalpot bersuara keras.

4. Jauh dari kegiatan sosial, tidak pernah membuat acara-acara sosial seperti sunatan masal atau kawin masal, mereka lebih suka membuat acara yang bersifat hura hura, dan kejahatan secara berkelompok seperti:  Pengeroyokan, jambret dan sebagainya.

5. Anggota nya lebih banyak ke pada kaum lelaki yang berkarakter keras, sekalipun tidak menutup kemungkinan ada kaum hawa yang ikut menjadi anggota geng.

6. Kendaraan yang mereka gunakan biasanya bodong, gak ada spion, sein, hingga lampu utama. Yang penting buat mereka adalah mampu untuk di pacu dalam kecepatan tinggi.

7. Visi dan misi yang tidak jelas, karena tidak memiliki aturan organisasi yang disusun, seperti program kerja AD/ART dll.

8. Tidak terdaftar dikepolisian atau masyarakat setempat.

9. Lebih memilih tempat sepi, gelap untuk berkumpul, hal ini dilakukan agar tidak terlalu kelihatan di muka umum. Karena mesti diketahui, satu geng motor itu tidak ada yang berteman dengan geng ytang lainnya.

10. Rekruitmen anggota baru dan pelantikan biasanya dilakukan dengan kekeraasan fisik seperti; berkelahi dan menenggak minuman keras.

Sementara itu, sangat berbeda dengan Club, baik itu Vespa ataupun motor yang lainnya, dengan kriteria  seperti di bawah ini:
Perlengkapan safety dalam berkendara benar-benar komplit.
Motor dan pengendaranya sama-sama lengkap bahkan biasanya ditambah box dibelakang motor buat menaruh helm dan peralatan motor.
Biasanya setiap club motor hanya terdiri dari satu merk dan satu tipe motor

saja namun ada juga yang campur-campur.
Berkumpul atau istilahnya kopdar ditempat yang ramai agar bisa dilihat masyarakat sekaligus ajang silahturahmi kepada club motor lain yang kebetulan melintas.

Pelantikan anggota baru biasanya tanpa kekerasan, hanya untuk having fun dan memberi pengetahuan seluk beluk berlalu lintas yang benar. Selain itu pelantikan dilakukan agar anggota baru bisa memahami tujuan club/komunitas tersebut serta saling mengenal diantara anggota didalamnya.
Mempunyai visi dan misi yang jelas dan jauh dari ruang lingkup yang anarkis.
Melakukan kegiatan touring ke daerah-daerah untuk tujuan wisata, kunjungan,baksos adventure.

AD/ART jelas dan tercatat dalam kepolisian atau wadah dari perkumpulan club motor.

Saling tolong menolong terhadap anggota club motor lain ketika dijalan mendapatkan trouble.

Setiap club motor memiliki tujuan dalam berkendara dan peraturan-peraturan yang tidak membebankan anggotanya. Karena club tersebut murni dijadikan sebuah kumpulan sesama pencinta kendaraan tersebut untuk berbagi

informasi dan menjalin persahabatan yang luas.

Berikut adalah salahsatu Tujuan Organisasi dari sebuah Club yang tercantum dalam AD/ART nya. Dalam Hal ini AD/ART tersebut diambil dari Club VAC (Vespa Antique Club)
VESPA ANTIQUE CLUB (VAC), adalah organisasi perkumpulan pemilik, pemakai dan penggemar motor VESPA berbentuk nasional, berdaulat dan mandiri, atas dasar kesamaan kegiatan hobi dan kegemaran dibidang otomotif motor VESPA termasuk kepedulian terhadap Kelestarian Nilai Luhur Budaya Bangsa, lingkungan, kemasyarakatan, ketertiban dan kedisiplinan berlalulintas, bersifat kekeluargaan dan kegotongroyongan.

Tujuan VESPA ANTIQUE CLUB (VAC) :

(1) Menjalin hubungan silaturahmi sesama Pemilik, Pemakai dan Penggemar motor VESPA maupun dengan pecinta otomotif lainnya, dalam rangka turut menciptakan kesatuan dan persatuan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

(2) Mewadahi para Pemilik, Pemakai dan Penggemar motor Vespa yang mencintai terhadap kelestarian otomotif roda dua jenis VESPA, keutuhan nilai-nilai antique motor VESPA serta hobi dalam melakukan inovasi dan kreatifitas memodifikasi motor VESPA.

(3) Membangun sumber daya manusia (SDM) anggota VAC Indonesia yang berjiwa patriotisme terhadap kelestarian nilai-nilai perjuangan dan peninggalan hasil pembangunan yang menjadi aset budaya bangsa, sebagai wujud tanggung jawab dan kecintaan terhadap ibu pertiwi.

(4) Menumbuhkan kesadaran dan kepedulian terhadap ketertiban, keindahan dan kebersihan lingkungan, sosial kemasyarakatan serta Ketertiban dan kedisiplinan berlalulintas bagi anggota VAC Indonesia khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.

(5) Menggerakan partisipasi anggota, dalam rangka turut mendukukung suksesnya pelaksanaan pembangunan nasional dibidang Lingkungan, Sosial Kemasyarakatan dan ketertiban lalulintas.

(6) Menggali dan mengembangkan potensi sumber daya dan dana, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan anggota khususnya dan kemajuan pembangunan daerah kerja pada umumnya menuju terwujudnya organisasi yang “ MANTAP, BERMANFAAT dan MANDIRI “

*AD/ART/PO

Saat ini masih terdapat beberapa kumpulan/komunitas Vespa yang belum memiliki AD/ART meski sudah memiliki nama untuk komunitas/kumpulannya. Hal ini diakibatkan belum mapannya mereka dalam berorganisasi sehingga belum bisa menyusun semuanya secara lengkap.
Meski demikian, komunitas vespa tersebut tidak bisa disebut geng motor. Karena hingga saat ini belum ada komunitas/kumpulan vespa yang tanpa tujuan, atau membuat sebuah kumpulan dengan tujuan membuat sebuah kekuatan berkelompok. Pada dasarnya kumpulan tersebut lebih pada sebuah perkumpulan kekeluargaan/persaudaraan sebagai wadah untuk menjalin kebersamaan dengan atau antara sesama komunitas. Meskipun semua tujuan itu belum tertulis dalam AD/ART atau aturan tertulis.
Atas dasar itulah, maka didirikan paguyuban/wadah yang mewadahi club/komunitas, sehingga komunitas yang belum memiliki kemapanan berorganisasi tersebut bisa bergabung dalam sebuah wadah yang jelas tujuan berkelompoknya. Seperti halnya IVI (Ikatan Vespa Indonesia) yang mewadahi lebih dari seratus club/komunitas vespa yang ada di Indonesia.
Dalam hal ini, IVI mewadahi Club, dalam artian bukan merekrut anggota perorangan. Sehingga yang terdaftrar di IVI adalah Club yang terdiri dari sekian personil di dalamnya. Hal ini bisa memberikan kemudahan komunitas yang anggotanya belum memahami administrasi dalam pengelolaan komunitasnya

artikel (Tetap Tenang Saat Mobil Mati Sekalipun)



Tetap Tenang Saat Mobil Mati Sekalipun

Tetap Tenang Saat Mobil Mati Sekalipun - Disaat yang genting, di tengah perjalanan anda yang jauh dari bengkel mobil, tiba-tiba mesin mobil kesayangan anda mati, atau mengalami kepanasan. Hal yang terampuh adalah mencoba untuk tetap rileks dan konsentrasi pada apa yang harus anda lakukan untuk mengantisipasinya.

Yups, setidaknya itulah yang saya lakukan saat di tengah perjalanan panjang tiba-tiba saya harus menyadari bahwa mobil saya mati, terlebih jika seorang diri. Karena tidak bisa mendapati sebuah bengkel mobil, maka saya pun memutuskan untuk memeriksa mobil saya seorang diri. Itung-itung jadi montir dadakan juga.

Tapi beruntung bagi saya, karena selama ini jika pergi ke bengkel mobil, saya selalu berkonsultasi mengumpulkan informasi otomotif tanya ini dan itu mengenai permasalahan mobil yang mungkin saja saya alami disaat genting, dan seperti pengalaman saya itu.

Misalnya saja saat anda mendapati mobil mati. Hal yang harus anda lakukan adalah memeriksa apakah persediaan bensin di mobil anda ada? Atau mungkin anda tak menyadari bahwa bensin sudah kering kerontang. Hal itu bisa dilihat dari meteran, namun jika tidak akurat anda bisa memeriksanya langsung ke tangki mobil dengan menggunakan batang kayu panjang untuk mengukur kedalaman bensin, tapi ingat harus yang bersih yah.

Jika bensin telah diperiksa dan persediaannya masih, maka cobalah untuk memeriksa karburatornya. Atau cobalah untuk membuka saringan udara. Kalau mesin kemudian menyala, maka gantilah saringan udara dengan yang baru. Tak hanya itu saja, periksa jugalah kebocoran vakum yang mungkin akan terjadi dalam system injeksi bahan bakar, pipa masuk, atau saluran lainnya.

Cobalah untuk tetap teliti dan konsentrasi saat masalah mobil anda terjadi Tetap Tenang Saat Mobil Mati Sekalipun, dan jangan pernah sungkan untuk berkonsultasi pada montir terpercaya di bengkel mobil yang mau membagi ilmunya dengan anda

artikel (Hindari Konslet Engine Control Unit (ECU) Pada Mobil)




Hindari Konslet Engine Control Unit (ECU) Pada Mobil


Pada saat musim hujan dan terjadi banjir di ruas - ruas jalan di Jakarta, seringkali para pemilik mobil memaksakan diri untuk menerjang banjir agar bisa segera sampai ke tujuan, tanpa memperhitungkan resiko  yang berpotensi merusak mesin mobil. Komponen mesin mobil yang sangat rentan terkena air saat menerjang banjir adalah Engine Control Unit (ECU).

ECU merupakan " Otak " dari mesin mobil, bertugas me-manage mesin secara keseluruhan, baik itu mengatur pasokan bahan bakar , udara , pengapian dll. Dampak kerusakan komponen mobil seperti ECU bisa menguras kantong cukup dalam. Berikut ini tips dari Bengkel Mobil yang bisa diterapkan untuk meminimalisir kerusakan Jika mobil anda sudah terlanjur terjebak ditengah banjir

Jika mobil terkena banjir, sebaiknya mobil langsung ditarik atau didorong ke tempat yang kering. Selanjutnya ketahui posisi ECU, Jika memang posisi ECU sudah dimasuki air, lepas komponen komputer tersebut, lalu keringkan dan bersihkan dengan cairan Trichloroethylene. Hal tersebut untuk mencegah konsleting pada mobil. Sebagai contoh, posisi ECU Toyota Fortuner, Innova, Avanza dan Rush ada di dalam kabin. Sedangkan Toyota Altis, Vios dan Yaris terdapar di ruang mesin. Ketinggian posisi ECU juga bervariasi antara 40-80 cm.

Untuk mengetahui apakah ECU sudah kemasukan air atau belum bisa dikenali dari ciri berikut ini, yaitu dimana mobil masih mau menyala, akan tetapi setelah 2-3 hari, saat distarter kembali mulai terasa susah. Pasca terendam banjir sebaiknya mesin mobil jangan langsung dinyalakan karena sangat berbahaya, berpotensi terjadi konslet pada Engine Control Unit ( ECU ) yang mengakibatkan mobil terbakar.

Bentuk pencegahan lain yang bisa diambil adalah menghindari melewati genangan air seperti banjir dengan kecepatan tinggi, untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya cipratan. Bila memungkinkan, buatlah pelindung engine control unit (ECU). terutama di bagian soket, agar lebih tahan bila terkena air.

artikel Setting Kamera Dslr



Setting Kamera Dslr

Optimalkan setting  manual pada kamera anda

Biasa jadi semenjak pertama seseorang membeli kamera digital, mode yang senantiasa dipakainya untuk memotret adalah mode AUTO. Alasan pertama karena mode ini memang menjadi mode yang paling mudah dipakai dan relatif bisa diandalkan pada berbagai macam situasi tanpa takut hasil fotonya akan mengecewakan. Alasan kedua mungkin karena kebetulan pada kamera digital itu hanya tersedia mode AUTO saja, sehingga ‘terpaksa’ tidak bisa berkreasi lebih jauh dengan mode manual. Memang pada umumnya kamera digital berjenis point-and-shoot dirancang amat simpel dan tidak dilengkapi dengan banyak fitur manual layaknya kamera prosumer. Namun bagi anda yang memiliki kamera dengan fitur manual, masihkah anda tetap memakai mode AUTO setiap saat?
Artikel ini akan mengajak anda untuk mengoptimalkan fitur-fitur manual yang ada pada kamera digital anda. Sebagai langkah awal, pertama tentunya adalah kenali dulu fitur manual apa saja yang tersedia di kamera anda, mengingat tiap kamera memiliki spesifikasi yang berbeda. Coba kenali dan periksa kembali spesifikasi kamera anda, akan lebih baik bila semua fitur manual di bawah ini tersedia pada kamera anda :
  • Manual sensitivity/ISO, artinya pada kamera tersedia pilihan untuk menentukan nilai sensitivitas sensor/ISO mulai dari AUTO, 100, 200, 400 hingga 1600. Ada kamera yang bahkan untuk menentukan nilai ISO sepenuhnya adalah AUTO, ada kamera yang nilai ISO terendahnya di 50, dan ada kamera yang sanggup mencapai ISO amat tinggi (3200, 6400 hingga 10000).
  • Advance Shooting Mode : P (Program), A (Aperture Priority), S (Shutter Priority), M (Manual). Lebih lanjut akan kita bahas nanti.
  • Exposure Compensation (Ev), digunakan untuk mengkompensasi eksposure ke arah terang atau gelap. Apabila eksposure yang ditentukan oleh kamera tidak sesuai dengan keinginan kita, fitur ini dapat membantu. Naikkan Ev ke arah positif untuk membuat foto lebih terang dan turunkan untuk mendapat foto yang lebih gelap. Biasanya tingkatan/step nilai Ev ini dibuat dalam kelipatan 1/3 atau 1/2 step.
  • Manual focus, suatu fitur yang tidak begitu banyak dijumpai di kamera saku. Berguna apabila auto fokus pada kamera gagal mencari fokus yang dimaksud, seperti pada objek foto yang tidak punya cukup kontras untuk kamera mengunci fokus (karena kerja auto fokus kamera berdasar pada deteksi kontras).
  • Manual White Balance, untuk mendapatkan temperatur warna yang sesuai dengan aslinya. Bermacam sumber cahaya yang berlainan sumbernya memiliki temperatur warna (dinyatakan dalam Kelvin) berbeda-beda, sehingga kesalahan dalam mengenal sumber cahaya akan membuat warna putih menjdi terlalu biru atau terlalu merah. Umumnya semua kamera digital termasuk kamera ponsel telah memiliki fitur auto White Balance yang bisa beradaptasi pada berbagai sumber cahaya. Namun sebaiknya kamera anda memiliki keleluasaan untuk mengatur White Balance secara manual seperti Daylight, Cloudy, Tungsten, Flourescent dan manual adjust.
  • Flash intensity level, berguna untuk mengubah-ubah kekuatan cahaya dari lampu kilat pada kamera. Hal ini kadang berguna saat hasil foto yang diambil dengan lampu kilat ternyata terlalu terang atau justru kurang terang.
Fitur manual manakah yang paling berdampak langsung pada kualitas hasil foto? Karena fotografi adalah permainan cahaya (exposure) dimana tiga unsur pada kamera yang menentukan adalah Shutter speed (kecepatan rana), Aperture (diafragma) dan ISO, maka fitur manual paling penting menurut saya adalah fitur manual P/A/S/M dan fitur manual ISO (sejauh yang saya amati, apabila sebuah kamera telah memiliki fitur P/A/S/M, maka kamera tersebut juga telah memiliki fitur manual ISO). Pada prinsipnya, kamera (dan fotografer) akan berupaya untuk menghasilkan sebuah foto yang memiliki eksposure yang tepat. Artinya, foto yang dihasilkan semestinya tidak boleh terlalu gelap atau terlalu terang. Gelap terangnya foto yang dibuat oleh kamera ditentukan dari ketiga faktor tadi, dimana :
  • shutter bertugas mengatur berapa lama cahaya akan mengenai sensor (atau film pada kamera analog), dinyatakan dalam satuan detik. Semakin singkat kecepatan shutter maka semakin sedikit cahaya yang masuk, dan demikian pula sebaliknya. Biasanya kamera memiliki kecepatan shutter mulai dari 30 detik hingga 1/4000 detik.
  • aperture memiliki tugas mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk ke lensa (dengan memperbesar atau memperkecil ukuran difragma), dinyatakan dalam f-number berupa skala pecahan mulai yang terbesar hingga terkecil (contoh : f/2.8, f/3.5, f/8 dsb). Nilai f-number kecil menandakan bukaan diafragma besar, sedang nilai f besar menunjukkan bukaan diafragma kecil. Nilai maksimum dan minimum dari diafragma suatu kamera ditentukan dari lensanya, dan nilai ini akan berubah seiring dengan perubahan jarak fokal lensa.
  • ISO menentukan tingkat sensitivitas sensor terhadap cahaya sehingga semakin tinggi nilai ISO maka sensor akan semakin peka terhadap cahaya meski dengan resiko meningkatnya noise pada foto. Faktor ISO ini menjadi pelengkap komponen eksposure selain shutter dan aperture, terutama saat kombinasi shutter dan aperture belum berhasil mendapatkan nilai eksposure yang tepat.
Pada kamera terdapat suatu alat ukur cahaya yang fungsinya amat penting dalam menentukan eksposure yang tepat. Alat ukur ini dinamakan light-meter, fungsinya adalah untuk mengukur cahaya yang memasuki lensa, biasa disebut dengan metering (biasanya terdapat dua macam pilihan metering pada kamera, yaitu average/multi segment/matrix dan center weight/spot). Hasil pengukuran ini dikirimkan ke prosesor di dalam kamera dan digunakan untuk menentukan berapa nilai eksposure yang tepat. Setidaknya inilah cara kerja semua kamera yang diopersikan secara otomatis melalui mode AUTO.
Tidak semua foto yang diambil memakai mode AUTO memberikan hasil eksposure yang memuaskan. Terkadang nilai shutter dan aperture yang ditentukan secara otomatis oleh kamera tidak sesuai dengan keinginan kita. Untuk itu keberadaan fitur manual P/A/S/M dapat membantu mewujudkan kreatifitas kita dan pada akhirnya bisa membuat foto yang lebih baik.
Inilah hal-hal yang bisa anda lakukan dengan fitur manual eksposure P/A/S/M pada kamera anda :
  1. Program mode (P). Huruf P disini kadang artinya diplesetkan sebagai ‘Pemula’ karena sebenarnya di mode ini hampir sama seperti memakai mode AUTO (oleh karena itu mode P ini relatif aman untuk dipakai sebagai mode standar sehari-hari). Bila pada mode AUTO semua parameter ditentukan secara otomatis oleh kamera, maka pada mode P ini meski kamera masih menentukan nilai shutter dan aperture secara otomatis, namun kita punya kebebasan mengatur nilai ISO, white balance, mode lampu kilat dan Exposure Compensation (Ev). Tampaknya tidak ada yang istimewa di mode P ini, tapi tunggu dulu, beberapa kamera ada yang membuat mode P ini lebih fleksibel dengan kemampuan program-shift. Dengan adanya program-shift ini maka kita bisa merubah variasi nilai pasangan shutter-aperture yang mungkin namun tetap memberikan eksposure yang tepat (konsep reciprocity) . Bila kamera anda memungkinkan program-shift pada mode P ini, cobalah berkrerasi dengan berbagai variasi pasangan nilai shutter-aperture yang berbeda dan temukan perbedaannya.
  2. Aperture-priority mode (A, atau Av). Mode ini optimal untuk mengontrol depth-of-field (DOF) dari suatu foto, dengan cara mengatur nilai bukaan diafragma lensa (sementara kamera akan menentukan nilai shutter yang sesuai). Aturlah diafragma ke bukaan maksimal (nilai f kecil) untuk mendapat foto yang DOFnya sempit (objek tajam sementara latar belakang blur) dan sebaliknya kecilkan nilai diafragma (nilai f tinggi) untuk mendapat foto yang tajam baik objek maupun latarnya. Biasanya pada lensa kamera saku, bukaan diafragma maksimal di f/2.8 (pada saat wide maksimum) dan bukaan terkecil berkisar di f/9 hingga f/11 (tergantung spesifikasi lensanya). Namun dalam situasi kurang cahaya, memperkecil diafragma akan membuat eksposure jadi gelap, untuk itu biarkan nilai diafragma pada posisi maksimal saat memotret di tempat yang kurang cahaya. Aperture priority mode pada DSLR
  3. Shutter-priority mode (S, atau Tv). Mode ini kebalikan dari mode A/Av, dimana kita yang menentukan kecepatan shutter sementara kamera akan mencarikan nilai bukaan diafragma yang terbaik. Mode ini berguna untuk membuat foto yang beku (freeze) atau blur dari benda yang bergerak. Dengan memakai shutter amat cepat, kita bisa menangkap gerakan beku dari suatu momen olahraga, misalnya. Sebaliknya untuk membuat kesan blur dari suatu gerakan (seperti jejak lampu kendaraan di malam hari) bisa dengan memakai shutter lambat. Memakai shutter lambat juga bermanfaat untuk memotret low-light apabila sumber cahaya yang ada kurang mencukupi sehingga diperlukan waktu cukup lama untuk kamera menangkap cahaya. Yang perlu diingat saat memakai shutter cepat, cahaya harus cukup banyak sehingga hasil foto tidak gelap. Sebaliknya saat memakai shutter lambat, resiko foto blur akibat getaran tangan akan semakin tinggi bila kecepatan shutter diturunkan. Untuk itu gunakan fitur image stabilizer (bila ada) atau gunakan tripod. Sebagai catatan saya, nilai kecepatan shutter mulai saya anggap rendah dan cenderung dapat mengalami blur karena getaran tangan adalah sekitar 1/30 detik, meski ini juga tergantung dari cara dan kebiasaan kita memotret serta posisi jarak fokal lensa. Pada kecepatan shutter sangat rendah di 1/8 detik, pemakaian stabilizer sudah tidak efektif lagi dan sebaiknya gunakan tripod.
  4. Manual mode (M). Di level mode full-manual ini, fotograferlah yang bertugas sebagai penentu baik nilai shutter dan aperture. Light-meter pada kamera tetap berfungsi, namun tidak digunakan untuk mengatur nilai eksposure secara otomatik melainkan hanya sebagai pembanding seberapa jauh eksposure yang kita atur mendekati eksposure yang diukur oleh kamera. Di mode ini dibutuhkan pemahaman akan eksposure yang baik, dalam arti fotografer harus mampu untuk mengenal kondisi cahaya pada saat itu dan dapat membayangkan berapa nilai shutter dan aperture yang diperlukan. Bila variasi kedua parameter ini tidak tepat, niscaya foto yang dihasilkan akan terlalu terang atau terlalu gelap. Namun bila sukses memakai mode manual ini, kita bisa mendapat foto yang memiliki eksposure yang baik melebihi foto yang diambil dengan mode AUTO, Program, Aperture-priority ataupun Shutter-priority. Contohnya pada saat mengambil foto sunset di pantai dimana dibutuhkan feeling yang tepat akan eksposure yang diinginkan.